Label: ,

Berat Ninggalin Jakarta

Kira-kira tanggal 18 Desember malem, ak bareng Fitra (Feet) dan ibu-ibu kami, rame-rame ke Jakarta naek Taksaka. Berasa rombongan Mamamia gitu deh! *haiyahh* Dan kami yang gak bakalan sering-sering ke Jakarta kalo gak ada event semacam gini, sungguh amat sangat bersyukur, pasalnya transportasi, akomodasi, dan konsumsi semuanya ditanggung oleh panitia (:

Tapi, sebenernya tanggal 19 ak ada ujian Pronunciation Practice...

Hmm...

Gak mungkin dong, ditinggal? Bisa berabe, mesti ngulang taon depan! Jadi, apa yg kulakukan? Yep, minta izin dums! Akhirnya, dengan perjuangan bertenaga kuda, ak berhasil menemukan rumah dosen pronunciation tersebut dan untunglah diizinkan untuk dimajuin ujiannya (Thank you so much, Ma'am!)

Dan seperti yang kusebut di awal tadi, jadilah kami semua berangkat naek kereta. Well, sempet ada yang nanya, "Kok gak naek pesawat aja? Kan dibayarin semua?"

Mungkin kalian juga berpikiran sama...

Ehmm. Sebenernya, bisa aja sih, tapi...rasanya ibu saya tidak setuju. I mean, beliau merasa tidak mantebh kalo naek pesawat. Mungkin berasa gak nginjek solid land kalee yah? Hmm. Yasud, keputusan bulat kami adalah naek kereta.

Nah, waktu di stasiun Tugu, kami gak sengaja ketemu dengan salah satu tim peserta; Ery Kuswandari dan Om Tusi. Akhirnya bergabunglah kami, satu gerbong pula, haha...Dan sesampainya di Jakarta, yang diawali dengan perjuangan menghadapi seorang calo taksi gelap yang sempat-sempatnya berbohong, tibalah kami di TMII dengan selamat. Puji Tuhan!

Waktu taksi kita nyampe di depan gerbang TMII, si Feet cerita kalo dia tanya-tanya sama temen kuliahnya yang dari Jakarta tentang penginapan di TMII. Nah, temennya itu ngetawain Feet terus. Katanya, "Jakarta Timur tu daerah rongsokan. Gak ada hotel bintang limanya! Ha ha ha ha...!"

Oww.

Tapi, simpul punya simpul, emang bener. Well, pertama-tama kita sempet tersesat. Jadi, tanya ke orang gitu, Desa Wisata di mana. Ealahh, setelah nyampe, dan dengan PDnya menurunkan semua barang bawaan, kagetlah kami, waktu baca papan di depan penginapan itu: GRAHA WISATA. Deng deng deng...

Okeh...Akhirnya, dengan letoi kami naekin barang-barang lagi, dan untunglah, Desa Wisata gak jauh-jauh amat. Ibu saya pun berkomentar, "Wah, ini orang-orang desa nginepnya di Desa Wisata juga!"

Eng ing eng... (ala Tyas)

Yah, gak papa lah ndeso, asal jangan ngutha! Ahaha...

Tapi, jangan salah! Ternyata, Desa Wisata tu terlihat cukup luxurious. Lobby-nya juga nyaman, lah. However, kami diantar keluar dari gedung tersebut menuju ke suatu area yang banyak cottage-nya (Jadi, gedung yang tadi cuma kantor plus restoran gitu). Dan cottage tersebut bisa dibilang semi-tradisional. Sebenernya cukup nyaman (ada 4 kamar, AC, TV, kamar mandi banyak) tapi agak lembab, sampe-sampe ibunya Feet (Tante Sandra) bilang kalo bantalnya kayak bau iler (rada lebay, hehe)...Yah, at least kamarku dan Feet yang paling VIP lah, hoho...

Di kamar, ak dan Feet pun saling melacur (melancarkan curhat)...Pada intinya, topik obrolan kami adalah our special guys. Gyahaha! Bisa ditebak sendiri, lah (X

Kira-kira kami sampai di penginapan tersebut sekitar jam 7 atau 8 pagi...Berlanjutlah sampe siang. Kok rasanya krik krik yah? I mean, perut kami yang berderik-derik. Seriously! Kami belum dapet sarapan. Well, karna itu siang hari, lucu juga, seharusnya kami sudah mendapat jatah lunch (yang kemungkinannya kecil)...

Jadi, siang itu kami mencari makan sendiri, di dekat penginapan. Di sana, pada pesen mie goreng, soto, mie rebus, dsb. Trus pada cekakak cekikik gak jelas gitu. Sempet bete soalnya dianternya lama, tapi bersyukur lah, bisa makan juga...

Dan tak terasa uda sore, tapi teteup gak ada tanda-tanda kehadiran breakfast kami. Sore-sore kami ke kantor dan bertanya dengan petugas penginapan, tapi kami disarankan untuk langsung bertanya pada panitia. Kebetulan mereka ada di lobby, dan akhirnya kami bertemu dan berdiskusi cukup lama. Tapi, rupanya ada gladi bersih di TTA sebentar lagi dan kami pun akhirnya jalan kaki ke sana.

Wew. Bagian depan TTA lagi dibetulin! Sempet parno soalnya waktu jalan mau masuk gitu, kami disuruh cepet-cepet. Ternyata banyak beling dan bahan bangunan berjatuhan. Busettt...Hampir kena, tapi untungnya lagi waspada, heheh (Jantungan, cing!)

Di dalem, terdengar musik R&B gitu. Trus kami intip, ternyata Rio Febrian lagi nyanyiin lagu salah satu peserta. Hoho. Tante Sandra bilang ke ak, "Rio Febrian yang asli ternyata lebih cakep, ya!" Wah, Tante! (X

Waktu ak, Feet, en Ery mau masuk, tau-tau ibuku manggil, kami akhirnya dapet snack. Trus, ngobrol-ngobrol dan kenalan sama panitia. Dapet undangan juga, ya walo terbatas sih. Fortunately, kami pun dapat jatah makan di penginapan. Akhirnya, setelah 15 menit di TTA, kami balik ke hotel lagi, diantar panitia naek mobil soalnya hujan gitu. Dan kami bisa makan di restoran Desa Wisata itu, yang menunya fantastis...

Ak pesen apa yah? Lupa namanya. Yang jelas, chicken gitu sama Strawberry Milkshake, hoho...Yang menarik, si Ery ternyata orang Jogja asli *haiyahh* Jadi, walo di menu kebanyakan makanan-makanan barat, pesanannya tu nasi goreng dan susu jahe! Wew! Katanya, "Udah kangen Jogja, je!"

Heu...

Event yang kami ikuti ini namanya LCNAB (Lomba Cipta Nyanyian Anak Bangsa). Acara lomba cipta lagu ini diadain oleh Depdagri dan YOI. Jadi, kriterianya lagu-lagu populer bertemakan kebangsaan dan kecintaan terhadap tanah air. Dan kami berdua, berhasil masukin dua lagu, Satu dan Lihatlah dalam daftar 10 besar lagu terbaik. Benar-benar di luar dugaan kami :D

Oia, delapan lagu yang laen tuh, Nyanyian Anak Negeri (Ery Kuswandari), Banggaku Negeriku (Suditomo), Selamat Pagi Indonesia (Arief Muttaqin), Pahlawan Idola (Zefanya Putra & Ibu Mimi), Orang Merdeka (Teguh Soesanto), Bersatulah Anak Indonesia (Zefanya Putra & Ibu Mimi), Merdeka (Aris Susanto & Agung W), dan Negeriku Tercinta (Siwi Purwono). Total ada 5 lagu dari Jogja loh! Sip, kan? (:

Malam itu bener-bener gak bisa dilupakan...Yep, lagu kami dinyanyiin oleh para artis ibukota dan diaransemen oleh musisi profesional, Iwang Noorsaid. Oh wow segala oh wow! Kami bisa ngerasain gimana sentuhan musik yang diberikan di lagu kami, jadi bener-bener beda tapi memuaskan sekali, hehe...

Lagu Lihatlah dinyanyiin sama Tina Toon. Sejujurnya nuansanya jadi manis banget, apalagi aransemennya, orkestra geseknya bener-bener dimanfaatin di sini. Nah, kalo Satu jadi terasa etnik banget soalnya ada ornamen tradisional di isi-isiannya, dan ditambah koreografi para penari di belakang si penyanyi (Marsya Gusman) yang nuansa kostumnya macem-macem, dari beragam adat dan budaya. Sip lah, sesuai lirik kami...

Trus waktu pada nungguin pengunguman, rasanya kok lama banget yah. Trus waktu MCnya (Dik Doank) nanyain perasaan para peserta, ak ngaku deg-degan banget. Apalagi musiknya horor gitu! Heu...Tapi akhirnya lega pol saat diumumin pemenangnya. Wew, actually we didn't really expect it, but thanks God, we could make it! Yep, lagu kami (Satu) berhasil dapet first place. Yang kami bisa lakuin cuma jejeritan gak jelas en peluk-pelukan di atas panggung. So histeris! Haha...

Setelah itu, ada sesi foto-foto dan wawancara, foto bareng Marsya, terus bersalaman dengan para dewan juri (James F. Sundah, Rieka Roslan, Trie Utami, Jodi) dan juga Bens Leo. Si Feet sempet pegel-pegel soalnya pialanya berat banget. Akhirnya pada gantian mbawa gitu. Huihi.

Rasa lelah dan laper yang kami alami akhirnya terbayar sudah! Bener-bener suatu kesempatan luar biasa yang Tuhan kasih, sehingga kami boleh ngalamin hal ini yang kami percayai sebagai rencana Tuhan yang terbaik dan gak pernah kami bayangkan sebelumnya (ceileee...)


Setelah check out (tanggal 20), akhirnya kami berenam (ak, ibuku, Feet, Tante Sandra, Ery, Om Tusi) berpisah, hiks! Sepertinya pada ngunjungi famili yang ada di ibukota...Well, sebenernya ada satu peserta lagi yang gabung dengan kami semenjak malam final, yaitu Tommy (bernama asli: Suditomo), tapi kulihat setelah acara bubar dia langsung berkumpul dan pulang dengan keluarganya. Kusimpulkan, semuanya berpulang pada keluarga masing-masing...

Setelah berkunjung ke Lebak Bulus, Setiabudi, dan Bekasi, akhirnya tanggal 22 kutinggalkan Jakarta. Jujur, rasanya berat banget. Entah kenapa...Mungkin karena emang bentar banget sih, dan itu ada alasannya; tanggal 25 adikku sidi di gereja, mana mungkin gak dateng? Yah, smoga laen kali bisa balik ke kota macet dan panas itu (:

4 komentar