Label:

Utara? Eh...Selatan?!

Minggu malem kemaren, sy lagi asik nonton tipi. Kemudiannn, datanglah Tulang (dalam bahasa Batak, artinya 'paman') Edo dan istrinya. Tulang Edo merupakan sepupu jauh ibu sy. Jadi, juga paman jauh sy. Hmm...akhirnya kami berbincang-bincang. Tulang nampak makin berisi. Waktu ia tanya, "kamu uda lupa sama Tulang, ya?", sy hanya tertawa. Sy tentu ingat betul. Dulu waktu sy kecil, tulang kadang-kadang datang dan ngomentarin gambar-gambar sy. Haha. Saat ini, tulang tinggal di Medan, setelah sebelumnya tinggal di Jogja dan juga Jakarta...

Akhirnya, ayah dan ibu pun turut bergabung. Sy kurang begitu mendengarkan karena masi asik nyambi nonton tipi, haha...Sy sekilas mendengar kenangan-kenangan lama saat dulu tulang dan mama masi kecil. Ada juga obrolan tentang keadaan tante-tante sy di Jakarta. Kemudian sampai pada topik mata angin. Hmm. Tulang berpendapat, Jogja itu membingungkan karena arah mata anginnya terlalu ekstrim. Di mana pun ia berada, di posisi mana pun, Jalan Magelang tetaplah utara. Begitulah.

Dan ayah sy pun menjelaskan kalo patokan utara adalah Kaliurang dan patokan selatan adalah Pantai Parangtritis. Tapi tulang masi merasa bingung. Katanya, kalo ia menghadap selatan dan orang menyuruhnya berjalan ke utara, maka secara gak langsung ia akan menuju lurus ke depan (menurut sy, perspektif tulang dengan utara adalah 'maju'). Tapi kemudian tulang menjelaskan kalo di Jakarta, orang-orang terbiasa menggunakan kompas, dan titik nolnya adalah Monas.

Nah, yang menggelikan saat tulang bilang, "Kalo lagi menghadap mana pun, atau ketika sedang di alun-alun selatan atau Malioboro; waktu aku tanya di mana Amplas, Jalan Kaliurang, atau Jalan Gejayan, smua orang akan bilang, di utara. Jadi di mana pun aku, utara tetap di situ", ayah sy pun menjawab, "Sama dengan naik pohon, dong. Kalo kita manjat, 'atas' itu akan selalu di atas! Kepala kita juga mengarah ke atas. Di mana pun, 'atas' tetap di situ". Wuahaha...ketawa semua jadinya.

Tapi tulang masi tak terima. Ia menjelaskan kalo di Jakarta, orang sudah terbiasa dengan wilayah-wilayah tertentu. Misalnya, daerah Jakarta Utara, Selatan, Barat, Timur, dan Pusat. Jakarta Selatan misalnya, wilayahnya uda pasti dan gak berubah. Lalu, kembali ke titik nol tadi. Jadi, menurut tulang, tanpa kompas kan gak ada istilah tenggara atau barat laut misalnya, jadi itu yang membingungkan. Hoho...

Hmm...mungkin bagi yang belum terbiasa dengan budaya ini, pake bahasa belokan kanan-kiri-depan-belakang aja kalee ye...Hihi.

7 komentar
Label:

Ditinggal Sayang

Huehehe...(Kali ini kuawali dengan tawa)

Hmm. Sekitar seminggu yang lalu, sy SMS salah seorang teman dekat sy dari SMA yang julukannya Feet. Sy lupa tentang apa. Mungkin hal yang remeh, tapi biasanya sih ia selalu membalas. Nah, setelah lewat beberapa hari, ternyata gak dibalas! Demikian pula SMS-SMS berikutnya. Huah! Ada apa ini?

Sy sampe bikin status di Facebook dan buletin di Friendster. Huhu. Lalu sy juga bertanya pada beberapa teman (Ilma, Nana, Gaby) dan mereka berusaha membantu. Gaby memberi nomor HP Feet yang "baru". Ilma tidak tahu menahu karna sedang jarang bersua. Sedangkan Nana berusaha menghibur sy. Hmm. Sebenernya sih bukan karna gak dibalas atau apa, tapi sy merasa kalau ada sesuatu. Pokoknya jadi parno sendiri, membayangkan kalo teman sy itu marah besar. Heuu...

Akhirnya...hari Jumat pagi kemaren, sy mencoba SMS dia. Dan akhirnya dibalas! Ia menjelaskan kalo SMS-nya gak delivered karena masalah sinyal. Hoo...

Sebenernya agak sedih juga ngelihat diri sy pada khususnya dan kita pada umumnya. Kenapa? Yah...karena saat ini kita bisa lihat betapa tergantungnya kita dengan teknologi. Dikit-dikit, kalo pulsa abis, jadi gatel banget pengen segera ngisi. Pokoknya semuanya harus sempurna. Sy juga terbukti agak tergantung dengan HP (sy sebut 'agak' karena lebih cenderung ke internet daripada HP). Mood sy bisa terganggu hanya karna benda itu (yang bisa rusak atau nge-hang sewaktu-waktu).

Demikian pula dengan Facebook. Belakangan ini jadi seriing banget buka. Dan beberapa hari ini ada sedikit dilema yang gak jelas. Ehm. Secara sy ini orang yang agak aneh dan rumit, mungkin kalian maklum kalo masalah ini begitu signifikan bagi sy. Tapi menurut sy, manusia normal juga akan menganggap masalah ini sangat meresahkan. Errr...

Jah, sy punya kelemahan yaitu kurang bisa jujur dalam perasaan. Sy agak membenci sifat ini. Tapi sy terbiasa untuk menyimpan masalah sendiri terlebih dulu. Dan sempat dulu disadarkan oleh seorang teman, bahwa gak baek untuk memendam (kembali ke postingan sebelumnya, hehe) uneg-uneg. Gak sehat! Saat ini pun sy berusaha menghindari kalimat "ah, nggak apa-apa kok" jika ada yang bertanya "ada masalah apa?". Agak tolol karena kita berusaha share kalo kita bermasalah tapi saat orang lain menaruh perhatian, kita justru beralih dan berbohong. Well, kecuali kalo kita bersikeras bahwa itu adalah hal yang sangat pribadi.

Yang jelas, berat bagi sy untuk meninggalkan kebiasaan online di dunia maya. Ibaratnya, dunia ini uda virtual. Jadi agak susah untuk lepas dari teknologi...

Yah, saya juga gak berniat lepas seratus persen, kok! Soalnya, ditinggal sayang juga... (:

2 komentar